Always! RT @myputra “Pak ada soal yang dianulir ngga?”#shitsaidonUjian
Aku bercerita kepada orang terdekatku. Ku katakan padanya, “Aku mendengar suara-suara di dapur pada malam hari yang sepi. Seram. apakah itu hantu?”
Orang terdekatku berkata, “Kamu menganggap hal seperti itu adalah perbuatan hantu? Percayakah kamu, bahwa hal ini telah dapat dijelaskan secara ilmiah?”
Aku diam.
Dia kembali berkata, “Tahukah kamu, bahwa waktu dapat mengikat setiap suara yang timbul dalam setiap kejadian yang terjadi. Itulah yang terjadi dengan apa yang kamu dengar di dapur.”
Aku mencoba memahami, namun terkadang jawaban yang tepat bukanlah jawaban yang aku inginkan. Aku berfikir, apakah mungkin waktu dapat mengikat suara?
Ku pejamkan mata, kembali ku dengar sayup-sayup suara dari dapur. Terdengar seperti isakan seorang wanita. Seketika pikiranku melayang pada kejadian pagi tadi, aku duduk di balik dinding sambil menangis. Apakah suara isakan itu adalah suara tangisanku?
Kalau memang begitu, waktu tidak mengikat suara, namun mengikat kenangan dan kejadian. Tapi, kenangan yang diikat oleh waktu sungguh tidak menyenagkan.
Apakah waktu dapat melepaskan ikatan itu agar kenangan tidak kembali terasa?
Ataukah ini hanya kenangan yang menghantuiku?
tiga kepala berkumpul.
berbicara semaunya, sesukanya, seenaknya.
tak ada yang merasa rugi, semua diuntungkan.
tidak ada drama, hanya kenyamanan.
dua kepala saat ini lebih baik.
daripada enam kepala,
dekat namun penuh drama.
sudah saatnya mempertemukan kembali air mata dengan kenyataan.
air hangat dengan udara dingin.
tidak perlu merasa malu.
keluarlah, sebanyak yang kau mau.
karena hari ini adalah Hari Air Mata.
lukisan keluarga yang sebenarnya, ada dalam rumahku, tetapi kebahagiaan keluarga yang sebenarnya, bukan di dalam rumahku.
aku menaruh harapanku bukan pada langit, juga bukan pada bumi, tetapi pada daun. hijau, berubah menjadi cokelat dan mengering, lalu gugur.
dan kini, daun itu gugur tanpa mengubah warnanya.
keluargaku hanya lukisan.
Dia mengejar Passion-nya untuk menjadi seorang wartawan.
Dia mengejar hal itu, hal yang dia inginkan, sejak dulu.
Bagaimana dengan Aku?
Aku bahkan belum tahu, mau jadi apakah Aku.
Tapi, Aku pun mengejar hal yang paling Aku inginkan,
yaitu Dia.
Aku berlari mengejar Dia.
Mungkin, Aku akan jadi pelari.
Tidak terasa sudah sepuluh bulan lebih kami menjalani hubungan ini. Tidak sekedar hubungan, tetapi belajar menjadi seorang “suami” dan “istri” yang baik. Namun, untuk kami, hal itu tidak mudah.
Perbedaan keyakinan yang kami miliki, menjadi sebuah dinding tinggi, keras, dan tebal yang muncul di antara kami. Tidak mudah, sungguh. Tertawa bersama menjadi sebuah hal yang sangat berharga, karena kami tahu, bisa saja tawa itu akan berakhir besok, lusa, atau beberapa waktu kemudian. Berakhir karena ingat akan dinding tersebut.
Kupasrahkan segalanya pada Tuhan.
Dia sealalu berkata, hubungan ini bukan hanya sekedar hubungan. Aku punya cita-cita dari hubungan ini, yaitu menikah dengan kamu. Ucapan adalah doa. Aku harap, itu terkabul.
Sekali lagi. Tidak mudah, sungguh.
Tapi, dia selalu ada disaat aku mulai lelah dan putus asa. Dia selalu mengucapkan kata-kata yang begitu ingin aku dengar. Hari ini, aku semakin dikuatkan olehnya. Meskipun malam ini angin dingin bertiup kencang, namun aku dapat mendengar dia berucap, “Kita pasti bisa menikah.”
dan air mataku mengalir begitu saja.
Perasaan yang sama, menjalin hubungan, mengikat cinta, komitmen, dan meninggal.
Apakah seperti itu yang mereka namakan cinta abadi. Ku kira tidak seperti itu. Mereka yang menyukai roman Romeo & Juliet mengatakan bahwa itu adalah cinta abadi. Ah, omong kosong. Apa iya, meninggal bersama adalah hal yang romantis? MENJIJIKAN.
Entah sejak kapan aku benci mendengar kata cinta. Aku tidak tahu tepatnya. Mungkin, saat orang tua pacarku mengusirku keluar dari rumah mereka. Tidak tahukah mereka bahwa akulah yang lebih mengerti dia ketimbang kalian sendiri, sebagai orang tuanya? Aku mencintai dia, sangat mencintainya. Namun, keluarganya sama sekali tidak merestui hubungan kami.
Harus bagaimanakah aku? Membawa lari pacarku, menikah lalumeninggal, layaknya Romeo dan Juliet? Ah, hina sekali. Apa sih yang dibanggakan orang-orang dengan cerita Romeo dan Juliet? Apakah mati bersama adalah hal yang romantis? Lalu, bagaimana dengan seorang Nenek yang terus hidup sendirian meskipun telah ditinggal suaminya bertahun-tahun, apakah nilai untuk hal itu? Menunggu ajalnya dengan sabar, hidup sesuai dengan takdirnya, berdoa untuk suaminya. Itu lebih indah bagiku.
Seperti saat ini, aku tidak bisa meminangmu. Hidupku dan diriku yang sekarang begitu dibenci oleh keluargamu. Aku tidak akan membawamu kabur dari keluargamu, tetapi aku akan menunjukkan kepada mereka, bahwa aku pantas untukmu.
Wahai wanitaku, hendaklah kau menunggu sebentar lagi, karena aku sedang mempersiapkan diriku agar pantas menjadi suamimu. Aku tidak banyak mengerti tentang wanita. Namun, hanya satu yang kutahu, wanita akan selalu menunggu orang yang dicintainya sampai kapanpun.
Kalau kamu mencintaiku, maka tunggulah aku.
IP Man, film tentang orang yang suka nanya-nanya IP The A Team , isinya org2 yg sombong dapet nilai A RT @yeahmahasiswa: IP Man, film tentang orang yang suka nanya-nanya IP
Bandung Inikami OrcheSKA
We are from Bandung, west java - Indonesia
————————————————————————
follow @inikamiSKA
visit www.inikamiska.com
email : management@inikamiska.com
Contact
Ugenx : +6287823402866
Randi : +628561449719